top of page
Logo Alien DC

Desain Interior Lobby BNI Emerald Tower di PIK 2

  • Writer: airlangga alien
    airlangga alien
  • 12 hours ago
  • 3 min read

Menerjemahkan “The Icon of Emerald” ke dalam Desain Arsitektur dan Interior


Di kawasan pesisir utara Tangerang yang tengah berkembang pesat, Menara BNI Emerald hadir sebagai landmark baru dengan siluet kristalin yang tegas dan presisi. Arsitekturnya dipahat melalui potongan diagonal yang menyerupai batu permata, sebuah metafora tentang nilai, kejernihan, dan eksklusivitas.


Namun di balik ekspresi monumental tersebut, muncul tantangan yang lebih subtil. Bagaimana bahasa arsitektur berskala kota ini diterjemahkan ke dalam ruang yang intim dan manusiawi?


Bagi Alien DC, interior Lounge & Lobby bukan sekadar fasilitas pendukung. Ruang ini diposisikan sebagai perpanjangan identitas arsitektur, sebuah medium untuk menghadirkan pengalaman personal dari sebuah ikon urban.

Jika menara berbicara kepada kota, maka interior berbicara kepada individu.



Context



Sebagai area penerima sekaligus ruang tunggu bagi nasabah prioritas, lounge memiliki peran ganda, fungsional sekaligus emosional. Ia harus mampu mengakomodasi aktivitas finansial yang efisien, namun pada saat yang sama menghadirkan rasa tenang dan eksklusif.


Tipologi lobby bank pada umumnya cenderung transaksional, terang, formal, dan terburu-buru. Pendekatan tersebut sering kali menciptakan jarak antara institusi dan penggunanya.

Proyek ini mencoba menggeser paradigma tersebut. Alih-alih sekadar tempat menunggu, ruang dirancang sebagai sanctuary, tempat berhenti sejenak, memperlambat ritme, dan merasa dihargai.



Strategi Desain



Bahasa bentuk menara yang menyerupai kristal tidak diterjemahkan secara literal ke dalam interior. Alien DC memilih pendekatan yang lebih esensial.


Bukan menyalin geometri, melainkan mengekstraksi karakter.Alih-alih menghadirkan bentuk zamrud secara eksplisit, desain berfokus pada bagaimana rasanya berada di dalam batu mineral itu sendiri, padat, reflektif, dan berlapis.


Pendekatan ini diwujudkan melalui tiga elemen utama, yaitu materialitas, cahaya, dan komposisi ruang.


Interior dibentuk sebagai atmosfer, bukan objek.



Pengalaman Spasial



Pengalaman ruang dimulai dengan suasana yang solid dan tenang. Elemen-elemen berskala besar dengan garis bersih menciptakan kesan permanen dan stabil, sehingga membangun rasa percaya sejak langkah pertama.


Seiring pergerakan, ruang bertransisi menjadi lebih lembut dan hangat. Area duduk disusun dengan jarak lega sehingga percakapan dapat berlangsung privat tanpa isolasi. Tata letaknya terbuka namun tetap personal, menghindari sekat masif maupun batas yang terlalu kaku.


Pendekatan ini menghasilkan keseimbangan antara eksklusivitas dan keterbukaan.

Ruang terasa intim, tetapi tidak sempit. Formal, namun tidak kaku. Premium, tanpa terasa berlebihan.


Alih-alih atmosfer institusional, pengalaman yang muncul lebih menyerupai hospitality lounge.



Material dan Pencahayaan



Material memainkan peran penting sebagai bahasa emosional.

Batu alam dengan tekstur dalam menghadirkan rasa stabilitas dan ketahanan. Permukaan reflektif menangkap cahaya secara halus dan menciptakan kedalaman visual yang terus berubah. Aksen metal menambahkan presisi dan kilau lembut, sementara tekstil serta elemen lunak membawa sentuhan manusiawi.


Kontras antara keras dan lembut membentuk keseimbangan taktil, antara kekuatan institusi dan kenyamanan personal.


Cahaya diperlakukan bukan sekadar alat penerangan, tetapi sebagai pembentuk suasana. Alih-alih terang merata, pencahayaan berlapis digunakan untuk menghasilkan glow tidak langsung yang menyelimuti ruang. Pantulan lembut pada permukaan batu menciptakan efek seperti cahaya di dalam kristal, tersebar, hangat, dan dalam.


Pendekatan ini menghindari kesan dramatis yang berlebihan. Kemewahan hadir sebagai ketenangan.



Programatik


Secara programatik, lounge berfungsi sebagai zona transisi antara dinamika transaksi finansial dan kebutuhan akan privasi. Konsep private yet open diwujudkan melalui furnitur berprofil rendah, komposisi longgar, dan sirkulasi yang mengalir alami.


Pengunjung dapat memilih untuk berinteraksi atau menyendiri tanpa merasa terasing.

Vegetasi disisipkan sebagai jeda visual yang melembutkan dominasi material keras sekaligus menghadirkan kualitas biophilic yang menenangkan. Elemen ini membantu ruang terasa lebih hidup dan tidak sepenuhnya korporat.


Strategi tersebut memperkuat gagasan bahwa kenyamanan psikologis sama pentingnya dengan efisiensi fungsi.



Desain Interior sebagai Brand Experience




Pendekatan desain proyek ini tidak mengandalkan kemewahan yang eksplisit. Tidak ada ornamen berlebihan atau gestur formal yang agresif. Nilai eksklusivitas dibangun melalui kontrol detail, proporsi, dan atmosfer.


Interior menjadi medium komunikasi non-verbal. Melalui material, cahaya, dan keheningan, ruang menyampaikan pesan tentang kepercayaan, stabilitas, dan hubungan jangka panjang, nilai yang identik dengan layanan prioritas. Tanpa perlu banyak kata, ruang sudah berbicara.



Kesimpulan


BNI PIK 2 Lounge & Lobby menunjukkan bagaimana interior dapat berfungsi sebagai jembatan antara arsitektur ikonik dan pengalaman manusia. Proyek ini tidak mencoba menyaingi ekspresi monumental menara. Ia memilih pendekatan yang lebih subtil dengan menghadirkan inti yang tenang di balik citra yang kuat.


Hasilnya adalah ruang yang tidak terasa seperti fasilitas perbankan, melainkan tempat bernaung, sebuah sanctuary yang mendukung ritme personal di tengah dinamika kota. Dalam kesederhanaannya, interior ini membuktikan bahwa kemewahan sejati bukan tentang apa yang ditampilkan, melainkan tentang bagaimana sebuah ruang membuat penggunanya merasa.



Comments


© 2025 Alien Design Consultant, All Rights Reserved

bottom of page