top of page

Mengubah Artefak Menjadi Arsitektur: Proses Kreatif di Balik Desain Bandara Ewer

  • Writer: domeiru fahramshed
    domeiru fahramshed
  • 6 hours ago
  • 3 min read

Bagaimana sebuah artefak budaya dapat diterjemahkan menjadi arsitektur modern tanpa kehilangan identitas aslinya?


Pertanyaan tersebut menjadi menarik ketika melihat pendekatan desain Bandara Ewer di Kabupaten Asmat, Papua. Dengan luas bangunan yang tercantum sekitar 500 meter persegi, proyek ini tidak hanya berbicara mengenai fungsi sebuah terminal bandara, tetapi juga mengenai bagaimana sebuah bangunan dapat merepresentasikan karakter wilayah dan budaya masyarakat setempat, sebuah karya arsitektur dari ALIEN DESIGN CONSULTANT.


Dalam proyek ini, budaya Asmat tidak ditempatkan sekadar sebagai elemen dekoratif. Referensi terhadap kebudayaan tersebut diterjemahkan melalui konsep ruang, bentuk bangunan, fasad, motif, artwork, hingga pemilihan material. Proses inilah yang membuat desain Bandara Ewer menarik untuk dibaca sebagai sebuah pendekatan cultural architecture.


Memulai dari Konteks, Bukan Sekadar Bentuk



Salah satu prinsip penting yang terlihat dalam konsep Bandara Ewer adalah upaya memahami konteks sebelum menentukan bahasa visual bangunan.


Presentasi proyek menyebut bahwa suasana ruang dirancang untuk mencerminkan elemen wilayah dan budaya Suku Asmat sebagai identitas. Corak, motif, artwork, dan simbol budaya kemudian disusun dan diterapkan ke dalam konsep interior bandara. Pada saat yang sama, pemahaman terhadap kebudayaan Asmat juga diterjemahkan ke dalam konsep layout ruang. Bangunan tradisional yang berbentuk kotak memanjang, simetris, dan memiliki orientasi terhadap sungai atau pantai menjadi salah satu referensi dalam pengembangan konsep.


Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa proses kreatif tidak dimulai dari pertanyaan, “Bangunan ini ingin terlihat seperti apa?” tetapi lebih dahulu dari pertanyaan, “Identitas apa yang ingin dibawa oleh bangunan ini?”


Ini merupakan perbedaan penting dalam desain kontekstual. Bentuk tidak muncul secara arbitrer, tetapi berangkat dari pemahaman terhadap tempat.


Menerjemahkan Motif ke Fasad





















Salah satu contoh paling jelas terdapat pada fasad Bandara Ewer. Dalam visual desain, motif tradisional diterapkan melalui metal CNC yang disesuaikan dengan motif Batik Asmat. Elemen tersebut kemudian dipadukan dengan atap bitumen dan tanaman lokal dalam komposisi fasad.


Penggunaan CNC metal memberikan dimensi lain pada proses translasi budaya. Motif yang memiliki akar tradisional dapat diproduksi menggunakan teknologi fabrikasi modern.

Hasilnya menciptakan hubungan antara tradisi dan teknologi.


Ini menjadi salah satu pelajaran penting dalam desain kontemporer: mempertahankan identitas lokal tidak selalu berarti menggunakan bentuk tradisional secara utuh. Teknologi modern justru dapat menjadi alat untuk menerjemahkan identitas tersebut ke dalam bahasa arsitektur yang baru.


Budaya Tidak Berhenti di Fasad



Kekuatan pendekatan Bandara Ewer juga terlihat karena identitas Asmat tidak hanya diterapkan pada eksterior.


Pada area departure curb misalnya, konsep desain menggabungkan artwork tradisional yang disesuaikan dengan penggunaan plywood dan struktur kayu. Pada check-in area, terdapat lukisan yang dikerjakan dengan menyesuaikan kayu ulin/besi, vinyl kayu, plywood lapis HPL, serta LED strip.



Sementara itu, boarding lounge menggunakan kembali artwork existing, hanging lamp, serta kayu ukiran oleh seniman lokal. Pada airside view, elemen artwork tradisional dipadukan dengan andesit stone, kayu ulin, metal CNC, motif Batik Asmat, dan atap bitumen.


Artinya, identitas dirancang sebagai sebuah sisArsitektur sebagai Identitas Tempatem visual yang konsisten, bukan sebagai satu objek ikonik yang berdiri sendiri.


Arsitektur sebagai Identitas Tempat



Pada akhirnya, desain Bandara Ewer memperlihatkan bahwa arsitektur dapat memiliki peran lebih besar daripada sekadar menyediakan fungsi.


Visi proyek secara eksplisit mengarah pada sebuah bandara yang mencerminkan identitas wilayah dan budaya, sekaligus memberikan pengalaman pelayanan penerbangan yang aman dan nyaman.


Ini menjadi inti dari pendekatan desainnya.

Bandara Ewer tidak mencoba menjadikan budaya sebagai ornamen yang ditempelkan pada bangunan modern. Sebaliknya, elemen budaya digunakan sebagai sumber inspirasi dalam membangun bahasa ruang dan karakter arsitektur.


Dari rumah adat Jew, motif perisai, artwork seniman lokal, hingga material kayu dan metal CNC, seluruh elemen tersebut membentuk satu narasi yang sama: sebuah bangunan modern yang tetap memiliki hubungan kuat dengan tempat di mana ia berdiri.


Karena pada akhirnya, arsitektur yang kontekstual bukan hanya tentang bagaimana sebuah bangunan terlihat.


Arsitektur yang kontekstual adalah tentang bagaimana sebuah bangunan mampu menceritakan siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan identitas apa yang ingin diwariskannya kepada penggunanya.


Comments


© 2026 Alien Design Consultant, All Rights Reserved

bottom of page