top of page

Reinterpretasi Japanese-Inspired Interior Design di KKDC

Writer: airlangga alien
airlangga alien
2 hours ago
4 min read

Reinterpretasi Japanese-Inspired Interior Design di KKDC

Bagaimana sebuah referensi budaya dapat diterjemahkan ke dalam interior kontemporer tanpa berhenti menjadi sekadar dekorasi?


Bagi Alien DC, prosesnya selalu dimulai dari pemahaman.

Ketika tim KKDC datang kepada Alien DC, kami tidak langsung memulai dari keputusan untuk membuat interior bergaya Jepang. Kami mulai dengan memahami kebutuhan ruang, melakukan research, membaca konteks, dan mengeksplorasi berbagai kemungkinan desain. Dari proses tersebut, setiap temuan diterjemahkan menjadi spatial strategy yang kemudian dikembangkan hingga menjadi desain yang dapat direalisasikan.


Lantai 1 KKDC sendiri dirancang sebagai sebuah rangkaian pengalaman ruang. Di dalam satu lantai terdapat café, seating area, bar, stage, reading room, lounge, dan berbagai fungsi pendukung lainnya.


Di tengah keberagaman tersebut, Japanese-inspired design hadir bukan sebagai sebuah style yang berdiri sendiri, tetapi sebagai salah satu spatial language yang membentuk pengalaman ruang.


Area seating tatami dengan platform, pendant, dan bukaan ke taman
Area seating tatami dengan platform, pendant, dan bukaan ke taman
Seating area dengan pandangan ke lanskap di luar
Seating area dengan pandangan ke lanskap di luar

Beyond the Japanese Look


Japanese design sering kali dikenali melalui elemen-elemen yang familiar: timber, tatami, geometri sederhana, warm lighting, dan restrained material palette.

Namun bagi kami, menghadirkan karakter Jepang bukan sekadar mengambil elemen-elemen tersebut lalu memasukkannya ke dalam ruang.


Yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimana elemen tersebut dapat memiliki relevansi di dalam ruang yang baru?


Dalam konsep Train of Thought, Alien DC menggambarkan perjalanan melalui berbagai atmosfer, termasuk karakter minimalis dan tenang dari ritual Jepang. Cahaya digunakan sebagai medium yang membentuk mood, texture, rhythm, dan memory sepanjang perjalanan tersebut.

Karena itu, Japanese-inspired di KKDC tidak diperlakukan sebagai sebuah visual theme. Kami melihatnya sebagai sebuah design reference yang perlu dipahami, kemudian diterjemahkan kembali sesuai dengan konteks ruang.



A Piece of Japan: Reinterpreting Tatami


Salah satu hasil dari proses tersebut hadir melalui area seating yang terinspirasi dari tatami.

Referensinya berangkat dari pengalaman dining tradisional Jepang, dengan floor seating dan custom-made tatami table. Namun dalam proses desain, elemen tersebut dikembangkan menjadi sebuah raised platform dengan padded seating dan HPL woodgrain finish.


Detail alas duduk dan platform dengan woodgrain finish
Detail alas duduk dan platform dengan woodgrain finish


Di sini, tatami tidak direproduksi secara literal. Sebaliknya, karakter dan prinsip dasarnya diterjemahkan kembali ke dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan ruang.


Platform tersebut menjadi lebih dari sekadar tempat duduk. Ia menjadi sebuah spatial element yang mengatur posisi pengguna, membentuk level ruang, sekaligus menjadi visual anchor di dalam interior. Pendekatan ini memungkinkan sebuah elemen yang sangat spesifik secara budaya tetap memiliki identitasnya, tetapi hadir dalam bentuk yang lebih contemporary dan relevan dengan kebutuhan ruang.


Dengan demikian, yang dipertahankan bukan semata-mata bentuknya, tetapi karakter yang membuat elemen tersebut memiliki makna dalam pengalaman ruang.



Designing the Atmosphere


Japanese-inspired language kemudian diteruskan melalui elemen lighting.

Di atas area tatami, sebuah pendant berbentuk rectangular dengan finishing HPL woodgrain dilengkapi detail grid pada bagian bawahnya. Bentuk tersebut mengambil reference dari traditional Japanese ceiling elements, kemudian diterjemahkan menjadi sebuah lighting feature yang lebih kontemporer.


Pendant HPL woodgrain dengan detail grid
Pendant HPL woodgrain dengan detail grid

Di sini, lighting bukan sekadar functional element. Dalam keseluruhan konsep KKDC, light digunakan untuk membentuk perception dan memengaruhi bagaimana kita membaca volume, distance, intimacy, texture, dan shadow di dalam ruang.


Karena itu, material, form, dan lighting tidak dirancang sebagai elemen yang berdiri sendiri. Ketiganya bekerja bersama untuk membentuk satu atmosphere yang utuh.


Bar dengan panel slat dan lighting linear
Bar dengan panel slat dan lighting linear


Sirkulasi dan area duduk dengan bukaan ke taman
Sirkulasi dan area duduk dengan bukaan ke taman

Pendekatannya bukan membuat seluruh ruang terlihat traditionally Japanese. Justru sebaliknya.

Setiap reference dipilih berdasarkan bagaimana elemen tersebut dapat bekerja di dalam keseluruhan komposisi berhubungan dengan material lain, lighting, circulation, furniture, dan aktivitas yang terjadi di dalamnya.


Meja, kursi, dan bar sebagai satu komposisi
Meja, kursi, dan bar sebagai satu komposisi

Dengan demikian, karakter Jepang tidak terasa seperti sebuah set decoration yang ditempatkan ke dalam café. Ia menjadi bagian dari arsitektur pengalaman ruang.



Understanding Before Designing


Bagi Alien DC, cultural understanding dalam design berarti melihat lebih jauh dari sekadar bentuk.

Kami mencoba memahami mengapa sebuah elemen hadir, bagaimana elemen tersebut digunakan dan dirasakan, serta apa yang membuatnya relevan sebelum menerjemahkannya ke dalam desain. Ketika sebuah cultural reference masuk ke dalam konteks yang baru, bentuk aslinya tidak selalu harus dipertahankan secara literal. Yang perlu dipertahankan adalah karakter dan prinsip yang mendasarinya.


Dalam KKDC, pendekatan tersebut diterapkan melalui elemen-elemen bespoke seperti tatami platform dan pendant, kemudian dikembangkan sebagai bagian dari keseluruhan interior lantai 1. Setiap elemen memiliki identitasnya sendiri, tetapi tetap menjadi bagian dari satu coherent spatial composition.


Bukan imitasi, tetapi interpretasi.

Bukan dekorasi, tetapi spatial language.



When Design Crosses Context


KKDC menjadi salah satu contoh bagaimana Alien DC bekerja ketika sebuah konsep desain memiliki karakter budaya yang kuat.


Kami percaya bahwa desain yang membawa referensi budaya tidak cukup hanya terlihat tepat secara visual. Referensi tersebut juga perlu dapat bekerja dengan baik ketika ditempatkan di dalam konteks yang baru. Karena itu, proses kami tidak berhenti pada mencari referensi atau menentukan material. Kami mencoba memahami bagaimana sebuah ide dapat diterjemahkan menjadi ruang yang tetap memiliki cultural character, tetapi juga relevan dengan tempat, pengguna, aktivitas, dan cara ruang tersebut digunakan.


Pada akhirnya, desain bukan hanya tentang dari mana sebuah ide berasal, tetapi tentang bagaimana ide tersebut dapat beradaptasi dan menjadi bagian yang natural ketika bertemu dengan konteks yang baru.


Memiliki design concept, cultural reference, atau spatial language yang ingin diterjemahkan ke dalam konteks Indonesia?


Mari kembangkan bersama. Designing with Context in Mind.




Comments


© 2026 Alien Design Consultant, All Rights Reserved

bottom of page