Ketika Metafora Menjadi Arsitektur: Membaca Konsep Kapal Pesiar pada BJB Cikarang

Di dalam dunia arsitektur, sebuah konsep tidak selalu lahir dari bentuk yang sudah ada. Ia dapat berangkat dari metafora, karakter, pengalaman, bahkan sebuah objek yang secara fungsi tidak memiliki hubungan langsung dengan bangunan. Tantangannya kemudian adalah bagaimana metafora tersebut diterjemahkan menjadi bahasa arsitektur yang tetap memiliki logika bentuk, fungsi, proporsi, dan identitas.
Pendekatan inilah yang menarik untuk dibaca pada BJB Cikarang, sebuah karya arsitektur dari ALIEN DESIGN CONSULTANT. Berada di tengah kawasan industri Cikarang yang dinamis, bangunan ini tidak mengambil pendekatan tipikal sebuah kantor bank yang cenderung formal dan konvensional. Sebaliknya, desainnya membawa dua referensi visual yang memiliki karakter berbeda: kapal pesiar modern dan arsitektur Art Deco.
Dari Kapal Pesiar Menjadi Bahasa Arsitektur

Mengapa kapal pesiar?
Secara visual, kapal pesiar identik dengan bentuk yang mengalir, dinamis, elegan, dan memiliki kesan bergerak meskipun dalam kondisi diam. Karakter tersebut kemudian diterjemahkan pada BJB Cikarang melalui bentuk lengkung dan volume bangunan yang menyerupai siluet kapal pesiar modern yang sedang bersandar.
Di sinilah metafora mulai bekerja dalam arsitektur.
Tujuan sebuah metafora bukanlah membuat bangunan terlihat persis seperti objek yang menjadi inspirasinya. Jika pendekatan tersebut dilakukan secara literal, hasilnya berisiko menjadi sekadar bentuk ikonik tanpa kedalaman konseptual. Sebaliknya, karakter utama dari objek tersebut perlu diidentifikasi dan kemudian diabstraksikan ke dalam elemen arsitektur.
Pada BJB Cikarang, karakter “kapal pesiar” diterjemahkan menjadi kesan mengalir, dinamis, dan futuristik. Dengan demikian, yang dipindahkan bukan bentuk kapalnya secara harfiah, melainkan karakter visual dan atmosfer yang melekat pada kapal pesiar.
Ketika Art Deco Memberikan Struktur

Menariknya, ekspresi dinamis tersebut tidak berdiri sendiri. Desain BJB Cikarang juga mengadopsi karakter Art Deco melalui permainan garis vertikal dan ritme geometris yang presisi.
Di sinilah terjadi dialog antara dua pendekatan.
Kapal pesiar memberikan karakter yang lebih fluid dan dinamis, sementara Art Deco memberikan disiplin geometris dan kesan monumental. Keduanya kemudian dipertemukan dalam bahasa arsitektur kontemporer.
Pendekatan tersebut membuat desain tidak hanya berbicara tentang bentuk, tetapi juga mengenai ritme, proporsi, dan keseimbangan visual. Elemen vertikal dan horizontal digunakan untuk menjaga agar bentuk yang dinamis tetap memiliki keteraturan.
Art Deco dalam konteks ini pun tidak sekadar menjadi reproduksi gaya historis. Elemen-elemen khasnya diartikulasikan kembali melalui pendekatan kontemporer sehingga menghasilkan karakter yang lebih relevan dengan bangunan masa kini.
Dari Ikon Menjadi Identitas
Bagi sebuah institusi seperti bank, arsitektur juga memiliki fungsi komunikasi.
Bangunan bukan hanya tempat berlangsungnya aktivitas operasional, tetapi dapat menjadi representasi visual dari karakter institusi. Fasad bergelombang dan elemen vertikal yang khas pada BJB Cikarang dirancang untuk membangun identitas yang kuat sekaligus menjadi landmark visual di lingkungannya.
Dengan demikian, konsep arsitektur bekerja pada dua tingkatan: sebagai solusi desain dan sebagai medium komunikasi brand.
Bentuk yang dinamis dapat menyampaikan kesan progresif dan modern, sementara artikulasi geometris memberikan kesan terstruktur dan berkelas. Pertemuan keduanya menghasilkan identitas arsitektur yang berusaha membedakan bangunan dari tipologi kantor bank konvensional.
Metafora yang Melampaui Bentuk

BJB Cikarang pada akhirnya menarik bukan semata-mata karena bentuknya yang menyerupai kapal pesiar. Nilai arsitektural nya justru dapat dibaca dari bagaimana sebuah metafora diterjemahkan menjadi serangkaian keputusan desain.
Kapal pesiar memberikan inspirasi terhadap karakter bentuk yang mengalir dan dinamis. Art Deco memberikan ritme geometris dan struktur visual. Asimetri memberikan dinamika komposisi. Sementara pendekatan sustainability dan ruang yang lebih inklusif memperluas konsep tersebut dari sekadar estetika menuju performa dan pengalaman pengguna.
Pada BJB Cikarang, kapal pesiar bukan sekadar objek yang ditiru. Ia menjadi titik awal untuk membangun sebuah bahasa arsitektur—bahasa yang kemudian diterjemahkan melalui bentuk, ritme, proporsi, identitas, dan pengalaman ruang.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatan sebuah konsep arsitektur: ketika sebuah ide yang sederhana mampu berkembang menjadi sistem desain yang memiliki karakter, fungsi, sekaligus makna.

Comments