top of page
PRIMARY-BLACK_edited_edited_edited_edite

KKDC Imaginarium: Ketika Interior Menjadi Perjalanan Emosional yang Dipandu Cahaya

  • Writer: airlangga alien
    airlangga alien
  • Feb 12
  • 3 min read

Arsitek / Desainer Interior: ALIEN DC

Lokasi: Jakarta, Indonesia

Luas Area: ±1.400 m²

Fungsi: Hospitality, Experience Space, Lighting Showcase

Tahun: 2025




Pendahuluan


Alih-alih menghadirkan ruang sebagai wadah fungsi semata, proyek KKDC Imaginarium menawarkan pendekatan berbeda terhadap desain interior. Ruang diperlakukan sebagai pengalaman berlapis, di mana pengunjung tidak sekadar melihat tetapi merasakan. Interior ini tidak berbicara secara eksplisit. Ia menyarankan, membimbing, dan perlahan membentuk persepsi.


Dirancang oleh ALIEN DC, proyek ini berangkat dari satu gagasan utama. Cahaya tidak ditempatkan sebagai elemen pelengkap, melainkan sebagai medium naratif. Melalui cahaya, ruang didefinisikan, emosi diarahkan, dan memori dibentuk.



Konsep Desain: Exploration, Perception, Coalescence


Keseluruhan interior disusun berdasarkan alur konseptual Exploration, Perception, dan Coalescence. Ketiganya membentuk satu kesatuan pengalaman yang disebut sebagai Imaginarium, sebuah dunia interior yang lebih dekat pada sensasi dibandingkan logika.



Exploration memposisikan ruang sebagai rangkaian atmosfer. Setiap area dirancang seperti bab berbeda, dengan referensi lintas budaya dan era. Mulai dari mid-century, retro-futurism, hingga Japanese minimalism dan biophilic design.


Perception menempatkan cahaya sebagai alat pembentuk persepsi ruang. Tanpa mengubah struktur secara fisik, cahaya menggeser cara pengunjung membaca skala, jarak, dan kedalaman.


Coalescence menjadi titik temu. Pada fase ini, seluruh fragmen pengalaman menyatu dan meninggalkan kesan utuh. Bukan tentang produk yang dipajang, melainkan tentang perasaan yang tertanam.




Strategi Tata Ruang: Interior sebagai Narasi Berurutan


Berbeda dari tipologi showroom konvensional, KKDC Imaginarium dirancang sebagai sekuens ruang, bukan kumpulan zona terpisah. Transisi antar area dibuat halus dan intuitif, mendorong pengunjung bergerak mengikuti emosi, bukan sekadar petunjuk arah.



Lantai 1: Aktivitas Sosial dan Eksplorasi Material


Lantai pertama menjadi fase eksploratif, tempat fungsi publik bertemu dengan eksperimen atmosfer. Area ini mencakup kafe, tenant, bar, lounge, smoking room, reading room, serta zona hiburan dan display.


Material yang digunakan kaya tekstur, seperti mosaic tile, terrazzo, rattan webbing, kayu, kulit, dan batu alam. Setiap ruang memiliki karakter kuat, namun tetap terikat oleh pencahayaan hangat dan terkontrol.






Lantai 2: Transisi Menuju Kontemplasi



Pada lantai kedua, fungsi ruang bergeser menjadi lebih privat dan reflektif. Program ruang meliputi boutique, onsen dan foot bath, meeting room, coffee roastery, serta glasshouse.


Bahasa desain mulai condong ke pendekatan Japandi-Zen. Elemen kayu medium tone, batu, kerikil, serta vegetasi digunakan untuk membangun suasana tenang. Ruang-ruang ini dirancang sebagai jeda emosional dalam perjalanan interior.






Lantai 3: Klimaks Atmosferik


Lantai teratas menjadi klimaks narasi interior. Mengusung estetika Gothic-inspired, ruang ini menghadirkan ceiling berpola rib vault, stained glass, chandelier besi, serta ornamen bernuansa historis.


Berbeda dari lantai-lantai sebelumnya, atmosfer di sini terasa gelap, hening, dan penuh simbol. Ruang berfungsi sebagai penutup emosional sekaligus reflektif dari keseluruhan perjalanan ruang.







Materialitas dan Detail Interior


Pendekatan material dalam proyek ini bersifat sensorial, bukan dekoratif. Material dipilih berdasarkan cara ia berinteraksi dengan cahaya dan pengalaman pengguna.


Kayu digunakan untuk menghadirkan kehangatan dan keseimbangan emosional. Batu dan terrazzo memberi rasa grounding. Kaca buram, stained glass, serta metal hairline berfungsi sebagai medium pantulan dan difusi cahaya. Tekstil dan kulit memperhalus pengalaman duduk dan mendorong pengunjung untuk berlama-lama.


Detail interior seperti rak buku geser, hidden door, serta photobooth dengan curtain merah menambahkan elemen

kejutan dalam perjalanan ruang.







Cahaya sebagai Elemen Arsitektural


Sebagai proyek milik brand pencahayaan, KKDC Imaginarium tidak memosisikan lighting sebagai display produk semata. Sistem pencahayaan diintegrasikan langsung ke dalam arsitektur interior.




Wall washer digunakan untuk menonjolkan tekstur permukaan. Indirect lighting membentuk volume dan kedalaman ruang. Pencahayaan fokus membangun momen hening dan intim. Cahaya bekerja secara presisi dan subtil, membentuk atmosfer tanpa terasa dominan.







Penutup


KKDC Imaginarium menunjukkan bagaimana desain interior dapat melampaui fungsi dan estetika. Proyek ini menghadirkan ruang sebagai medium pengalaman, tempat cahaya, material, dan narasi berpadu membentuk perjalanan emosional yang utuh.


Alih-alih menjual produk secara frontal, interior ini menawarkan rasa. Pengunjung tidak pulang dengan ingatan tentang ruang semata, tetapi dengan ingatan tentang diri mereka sendiri saat berada di dalamnya.


1 Comment


eliottlawery
Mar 06

This was a really fascinating and beautifully written post. The way an interior space can become an emotional journey guided by light and imagination is something that really resonates, especially when design goes beyond aesthetics and connects with personal feelings and experiences. When environments are thoughtfully crafted to evoke mood, memory, and emotion, it helps visitors engage with the space on a much deeper level, and posts like this do a great job of conveying that connection. The blend of creativity, light, and atmosphere in projects like KKDC Imaginarium makes us appreciate how design can shape not just what we see, but what we feel. While researching topics like art, architecture, and sensory experience for academic work, I’ve also found…

Like

© 2025 Alien Design Consultant, All Rights Reserved

bottom of page