top of page

Masjid Asy-Syukriyyah: Arsitektur Rasa Syukur di Tengah Kota Tangerang

  • Writer: Qeis Muhammad
    Qeis Muhammad
  • 5 hours ago
  • 3 min read

Di tengah padatnya kawasan kota Tangerang, sebuah masjid dirancang bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang yang menumbuhkan rasa syukur, pengetahuan, dan kebersamaan. Masjid Asy-Syukriyyah hadir sebagai bagian dari kompleks Asy-Syukriyyah Islamic School, menjawab kebutuhan spiritual sekaligus sosial bagi siswa dan masyarakat sekitar.


Dengan luas tapak sekitar 530 m², proyek ini berada di lingkungan permukiman yang cukup padat di Jalan KH. Hasyim Ashari, Cipondoh, Tangerang. Lokasinya yang berada di tengah aktivitas pendidikan dan kehidupan warga membuat masjid ini memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar ruang salat. Masjid ini menjadi titik pertemuan antara pendidikan, komunitas, dan kehidupan sehari-hari.


Inspirasi Konsep: Basthul Kaffain

Konsep utama yang melandasi desain Masjid Asy-Syukriyyah adalah Basthul Kaffain, yaitu gestur tangan yang menengadah saat berdoa. Gestur ini menjadi metafora arsitektural yang kuat, diterjemahkan ke dalam komposisi massa bangunan yang menjulang dan saling mengapit, menyerupai dua tangan yang terangkat ke langit.


Melalui pendekatan ini, arsitektur masjid tidak hanya menghadirkan simbol spiritual, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai yang dipegang oleh institusi Asy-Syukriyyah: kesadaran atas nikmat Ilahi, kerendahan hati, serta keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan.


Masjid sebagai Shared Spiritual Node

Masjid ini dirancang sebagai shared spiritual node, sebuah ruang spiritual bersama yang menghubungkan siswa, guru, dan masyarakat sekitar. Dengan akses yang terbuka serta jalur pejalan kaki yang jelas, masjid ini berfungsi sebagai titik temu antara lingkungan sekolah dan komunitas.


Pendekatan ini menciptakan ruang yang inklusif, tempat di mana aktivitas ibadah, pembelajaran, dan interaksi sosial dapat berlangsung secara bersamaan.


Respons terhadap Konteks Tapak

Tapak proyek berada di area yang memiliki intensitas aktivitas tinggi, terutama pada jam antar-jemput siswa. Oleh karena itu, desain sirkulasi menjadi perhatian penting dalam perancangan. Akses masuk masjid dirancang untuk melayani dua alur utama: pengguna dari lingkungan sekolah dan masyarakat umum.


Selain itu, penyediaan lay-bay di sepanjang jalan utama membantu kendaraan berhenti tanpa mengganggu arus lalu lintas, sehingga meningkatkan kenyamanan dan keamanan bagi pejalan kaki maupun pengguna jalan.


Orientasi bangunan juga mengikuti arah kiblat pada sudut 295,19°, sehingga massa bangunan tidak sepenuhnya mengikuti grid kota. Penyesuaian ini menghasilkan komposisi ruang yang unik sekaligus menciptakan area transisi berupa lanskap dan jalur pedestrian di sepanjang batas tapak.


Organisasi Ruang Vertikal


Untuk mengoptimalkan keterbatasan lahan, bangunan masjid disusun secara vertikal dengan pembagian fungsi yang jelas.


Dua lantai pertama difungsikan sebagai ruang utama salat, yang dirancang agar mudah diakses oleh jamaah dari sekolah maupun masyarakat sekitar. Sementara itu, lantai atas digunakan sebagai ruang multifungsi yang dapat menampung berbagai kegiatan seperti kajian, pertemuan komunitas, hingga aktivitas edukatif lainnya.


Pengaturan ini menjadikan masjid tidak hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan pembelajaran bagi komunitas.


Arsitektur yang Terbuka terhadap Cahaya dan Udara

Desain massa bangunan juga mempertimbangkan kualitas ruang interior. Kehadiran balkon dan bukaan pada fasad memungkinkan masuknya cahaya alami dan penghawaan alami, menciptakan suasana ruang yang lebih nyaman bagi jamaah.


Sementara itu, sirkulasi vertikal seperti tangga dan lift ditempatkan secara strategis di sisi bangunan sehingga tidak mengganggu area salat utama. Pendekatan ini memastikan bahwa fungsi ibadah tetap menjadi fokus utama dalam pengalaman ruang masjid.


Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah

Masjid Asy-Syukriyyah dirancang sebagai ruang yang hidup, tempat di mana spiritualitas, pendidikan, dan komunitas saling bertemu.


Melalui konsep yang berakar pada simbol doa, respons terhadap konteks perkotaan, serta ruang yang terbuka bagi berbagai aktivitas, masjid ini menjadi representasi bagaimana arsitektur dapat menghadirkan makna yang lebih dalam bagi kehidupan sehari-hari.


Lebih dari sekadar bangunan, Masjid Asy-Syukriyyah adalah ruang di mana rasa syukur dijalani, ilmu dibagikan, dan kebersamaan tumbuh bersama.

Comments


© 2025 Alien Design Consultant, All Rights Reserved

bottom of page