Massing Bertingkat sebagai Strategi Fasad: Transformasi Bentuk Candi dalam Arsitektur Hotel Ayola Kediri
- domeiru fahramshed
- Jan 21
- 2 min read

Dalam konteks arsitektur hospitality di kota-kota sekunder Indonesia, tantangan utama bukan sekadar menghadirkan bangunan yang fungsional, melainkan bagaimana menciptakan identitas visual yang kuat, kontekstual, dan berkelanjutan. Proposal Desain Hotel Ayola Kediri oleh ALIEN Design Consultant menawarkan pendekatan menarik melalui strategi massing bertingkat yang secara sadar me reinterpretasi bentuk arsitektur candi sebagai bahasa fasad, tanpa terjebak pada simbolisme literal.
Pendekatan ini menempatkan fasad bukan hanya sebagai elemen kulit bangunan (building envelope), tetapi sebagai hasil dari proses transformasi massa yang terstruktur, kontekstual, dan sarat makna historis.
Candi sebagai Referensi Arsitektural, Bukan Ornamen

Alih-alih mengekspresikan identitas lokal melalui ornamen tempelan atau motif dekoratif, desain Hotel Ayola Kediri mengadopsi logika spasial dan hierarki massa candi sebagai dasar pembentukan fasad. Candi dalam tradisi arsitektur Nusantara tidak berdiri sebagai objek tunggal yang datar, melainkan tersusun melalui undakan bertahap yang merepresentasikan proses, perjalanan, dan pencapaian.
Prinsip inilah yang diterjemahkan ke dalam komposisi massa bangunan hotel. Setiap lapisan massa tidak hanya membentuk ritme visual, tetapi juga mengartikulasikan hirarki fungsi, mulai dari podium publik, area semi publik, hingga tower privat kamar hotel. Dengan demikian, fasad lahir dari struktur organisasi ruang, bukan sekadar keputusan estetika.
Massing Bertingkat sebagai Alat Kontrol Skala dan Proporsi

Skala bangunan hotel yang relatif besar berpotensi menciptakan dominasi visual berlebihan terhadap lingkungan sekitar. Strategi massing bertingkat pada Hotel Ayola Kediri berperan sebagai alat mitigasi skala, memecah volume besar menjadi lapisan-lapisan yang lebih humanis.
Undakan massa ini menghasilkan permainan bayangan (shadow play) yang dinamis sepanjang hari, memperkaya kedalaman visual fasad tanpa harus mengandalkan kompleksitas material berlebihan. Bagi arsitek, pendekatan ini menunjukkan bahwa artikulasi massa dapat menjadi solusi efektif dalam mengelola skala bangunan besar di kawasan urban berkembang.
Subtractive Massing dan Pembentukan Focal Point Fasad

Salah satu strategi penting dalam desain ini adalah penggunaan subtractive massing pada bagian frontal bangunan. Alih-alih menambah elemen fasad secara agresif, sebagian massa justru dikurangi untuk membentuk void dan bukaan besar yang berfungsi sebagai focal point.
Pendekatan ini menciptakan citra bangunan yang welcoming dan porous, sekaligus memperkuat keterhubungan visual antara interior dan lanskap sekitar, khususnya arah pandang ke Gunung Liman dan Gunung Kelud. Dalam konteks fasad, void ini menjadi elemen komposisi yang setara pentingnya dengan solid mass, menciptakan keseimbangan visual yang matang.
Fasad sebagai Representasi Narasi Sejarah Kediri

Kediri sebagai wilayah dengan sejarah panjang Kerajaan Hindu di Nusantara memiliki kekayaan narasi arsitektural yang kuat. Transformasi bentuk candi dalam desain Hotel Ayola Kediri tidak dimaksudkan untuk menghadirkan nostalgia visual, melainkan sebagai abstraksi nilai dan prinsip arsitektur masa lalu ke dalam bahasa kontemporer.
Dengan cara ini, fasad hotel berfungsi sebagai media narasi kultural, menghadirkan kontinuitas sejarah dalam wujud yang relevan dengan kebutuhan dan teknologi masa kini. Bagi arsitek, pendekatan ini menunjukkan bagaimana konteks historis dapat diolah secara kritis, bukan direplikasi secara dangkal.
Massing bertingkat pada Hotel Ayola Kediri membuktikan bahwa transformasi arsitektur tradisional dapat dilakukan melalui pendekatan abstraksi dan logika ruang, bukan imitasi visual. Dengan menjadikan bentuk candi sebagai inspirasi massing, desain ini menghadirkan fasad yang bermakna, responsif, dan berkarakter kuat.
Bagi arsitek profesional, proyek ini menawarkan pelajaran penting: bahwa fasad terbaik lahir dari pemahaman mendalam terhadap massa, konteks, dan narasi, bukan dari keputusan kosmetik semata.



The way layered massing shapes Ayola’s hotel façade feels almost like a rhythm in daily life how space, light, and form guide how we move and feel each day. Thoughtful design invites comfort, not just aesthetics, much like high school level course help suggests steady structure behind learning big concepts. This blog makes complex architecture feel grounded in real lifestyle experience.
The way the Ayola hotel is using multi-story massing to design the buildings in order to revive the theme of the temple is quite impressive, highlighting the power of proper planning in changing the general architectural theme. This made me think of how the US online class taker would approach answering the question in the take my online biology class help guide. As we've seen in the design of the hotel, proper planning is key in order to bring out the proper utilization of design in terms of aesthetics in conjunction with purpose.