Proposal Desain Islamic Cultural Center di Solo: Ketika Ruang Budaya dan Keimanan Bertemu
- Qeis Muhammad
- 2 days ago
- 3 min read

Setiap kota memiliki caranya sendiri untuk bercerita. Solo bercerita lewat budaya, ritme kehidupan yang tenang, dan tradisi yang masih hidup di tengah perubahan zaman.
Di kota inilah Alien Design Consultant membayangkan sebuah ruang: bukan sekadar bangunan, tetapi sebuah Islamic Cultural Center—tempat di mana keimanan, budaya, pengetahuan, dan kehidupan sehari-hari saling bertemu.
Proyek ini merupakan proposal desain yang menjadi salah satu karya penting untuk merepresentasikan cara berpikir, pendekatan desain, dan karakter Alien DC dalam merespons konteks budaya dan spiritual sebuah kota.
Membaca Solo Sebelum Menggambar

Bagi kami, desain tidak pernah dimulai dari bentuk. Ia selalu dimulai dari membaca tempat.
Solo adalah kota budaya. Di sini, tradisi Jawa, kehidupan religius, dan aktivitas komunal saling berkelindan. Nilai kebersamaan masih kuat, ruang publik masih hidup, dan aktivitas keagamaan tidak berdiri sendiri—melainkan menyatu dengan keseharian masyarakat.
Tapak proyek berada di kawasan Gilingan, tepat di sebelah Masjid Raya Sheikh Zayed Surakarta. Lokasinya strategis, namun juga menantang: berbatasan dengan jalan utama, jalur kereta, kawasan permukiman, serta area dengan regulasi ketat. Semua kondisi ini menjadi bagian dari cerita yang harus dijawab oleh desain.
Sebuah Gagasan: Islamic Cultural Center yang Kontemporer

Proposal ini berangkat dari satu pertanyaan sederhana: bagaimana jika Islamic Cultural Center tidak hanya menjadi tempat ibadah atau simbol, tetapi juga katalis kehidupan kota?
Karenanya, Alien DC merumuskan tiga visi utama dalam proposal ini:
Islamic Contemporary Menghadirkan arsitektur Islam yang tidak terjebak pada repetisi bentuk klasik, namun mampu berbicara dengan bahasa zaman—kontemporer, relevan, dan berumur panjang.
Community Catalysator Bangunan tidak berdiri eksklusif, melainkan membuka diri sebagai ruang bersama: tempat belajar, berdiskusi, berkarya, dan berkumpul lintas generasi.
Technology Integrated Teknologi diposisikan sebagai alat untuk mempermudah aktivitas, memperkaya pengalaman ruang, dan mendukung fungsi edukatif di dalamnya.
Ruang yang Dibangun dari Makna

Secara konseptual, massa bangunan dibagi berdasarkan 3 nilai penting dalam Islam:
Habluminallah (hubungan manusia dengan Tuhan),
Habluminannas (hubungan antar manusia),
Habluminal alam (hubungan dengan alam).
Ketiganya diterjemahkan ke dalam komposisi massa vertikal dan horizontal, ruang air, serta lanskap yang tidak hanya menjadi elemen estetis, tetapi juga simbol keseimbangan.
Orientasi kiblat menjadi sumbu utama, sementara hubungan visual dan spasial dengan Masjid Sheikh Zayed dijaga agar keduanya terasa sebagai satu kesatuan kawasan—bukan saling bersaing, tetapi saling melengkapi.
Program yang Hidup, Bukan Sekadar Lengkap

Islamic Cultural Center ini dirancang sebagai ruang aktif sepanjang hari. Bukan hanya ramai di waktu-waktu tertentu, tetapi hidup dari pagi hingga malam.
Program yang diusulkan meliputi:
public market dan plaza sebagai ruang interaksi harian,
perpustakaan dan arsip digital,
coworking space dan ruang diskusi,
galeri dan art space,
amphitheater dan auditorium untuk kegiatan budaya dan edukasi.

Ruang-ruang ini disusun berlapis, saling terhubung secara visual dan sirkulasi, dengan perhatian besar pada pengalaman pejalan kaki. Bahkan, sebuah koneksi bawah tanah diusulkan untuk menghubungkan area ini langsung dengan kompleks masjid, demi kenyamanan dan kelancaran pergerakan pengunjung.
Bahasa Arsitektur: Harmoni, Bukan Dominasi

Alih-alih meniru bentuk masjid di sebelahnya, proposal ini memilih pendekatan yang lebih halus. Jika masjid tampil formal, monumental, dan sakral, maka Islamic Cultural Center hadir dengan karakter:
lebih organik,
lebih dinamis,
lebih cair dalam bentuk dan ruang.
Material berwarna terang, tekstur batu, dan permainan garis vertikal–horizontal digunakan untuk menciptakan dialog visual tanpa menghilangkan identitas masing-masing bangunan.
Sebuah Proposal, Sebuah Pernyataan Sikap

Proposal ini adalah cerminan bagaimana kami:
membaca konteks,
merangkai makna,
dan menerjemahkan nilai budaya serta spiritual ke dalam ruang yang relevan dengan masa depan.
Ia menjadi bagian dari perjalanan kami sebagai arsitek yang percaya bahwa arsitektur bukan hanya tentang membangun bangunan, tetapi tentang membangun hubungan—antara manusia, budaya, dan zaman.


Comments