top of page
Logo Alien DC

Desain Ruang untuk Mobilitas, Bandara Internasional Bali Utara

  • Writer: airlangga alien
    airlangga alien
  • 3 days ago
  • 2 min read

Bandar udara bukan sekadar tempat untuk berpindah dari satu titik ke titik lain. Di Bandar Udara Bali Utara, perjalanan dirancang sebagai sebuah pengalaman ruang yang utuh. Setiap langkah, setiap jeda, dan setiap arah menjadi bagian dari narasi arsitektur yang menyambut, mengarahkan, dan menemani pengguna sejak tiba hingga melanjutkan perjalanan.


Direncanakan oleh Alien DC, proyek ini melihat bandara sebagai ruang publik yang aktif, bukan hanya efisien secara fungsi, tetapi juga bermakna secara pengalaman. Dari sinilah perjalanan ruang di Bandar Udara Bali Utara dimulai.



Gerbang Perjalanan: Ruang Transisi yang Terbuka


Saat pertama kali memasuki bandara, pengunjung disambut oleh ruang transisi yang luas dan terbuka. Inilah gerbang awal perjalanan. Skala monumental hadir untuk memberi rasa lega dan orientasi, namun tetap dibalut kehangatan melalui bentuk atap yang mengalir dan struktur yang terbuka. Ruang ini memberi sinyal yang jelas: perjalanan Anda dimulai di tempat yang ramah, terbuka, dan berkarakter.



Ruang Menunggu sebagai Lanskap


Di area menunggu, Di sini, menunggu tidak berarti diam. Ruang dirancang layaknya sebuah lanskap dengan elemen hijau, area duduk yang tersebar, dan jalur sirkulasi yang cair. Pengguna bebas memilih ritmenya sendiri: duduk santai, berjalan ringan, atau sekadar menikmati suasana. Skala ruang diperkecil secara bertahap, membangun pengalaman yang lebih intim dan menenangkan.



Alur Bergerak yang Jelas dan Mengalir


Pada area bergerak, ruang secara alami mengarahkan pergerakan pengguna. Sirkulasi dirancang jelas, terbaca, dan mengalir alami. Tanpa perlu banyak penanda, ruang itu sendiri menjadi pemandu. Area bergerak dibuat luas dan terbuka, memastikan perjalanan terasa efisien namun tetap nyaman. Di titik ini, skala monumental kembali hadir, mengingatkan kita bahwa bandara adalah ruang publik besar yang harus mudah dipahami oleh semua orang.



Material, Cahaya, dan Pengalaman Sensorial


Perhatian kemudian diarahkan pada detail ruang. Material di bandara ini tidak dipilih hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dirasakan. Permukaan yang nyaman disentuh, warna yang menenangkan mata, dan tekstur yang hidup membentuk pengalaman sensorial yang halus. Ketika cahaya alami masuk ke dalam ruang, material dan skala saling berinteraksi, menghidupkan ruang dan memberi kedalaman pada pengalaman bergerak dan menunggu.



Ruang Ikonik sebagai Titik Orientasi


Di tengah ruang, elemen ikonik dihadirkan sebagai titik orientasi utama. Elemen vertikal ini membantu kita membaca posisi dan arah, sekaligus menjadi pusat aktivitas. Orang-orang berkumpul, menunggu, dan berinteraksi di sekitarnya. Di sinilah arsitektur tidak hanya menjadi latar, tetapi menjadi bagian dari pengalaman sosial di dalam bandara.



Bandara sebagai Ruang Publik yang Humanis


Pada akhirnya, Bandar Udara Bali Utara bukan hanya fasilitas transportasi. Ia adalah ruang publik yang dirancang untuk manusia. Melalui perpaduan skala intim hingga monumental, material yang sensorial, serta cahaya alami yang mengalir ke dalam ruang, bandara ini mengajak setiap penggunanya untuk merasakan perjalanan secara lebih sadar, tenang, dan bermakna.


Di sini, menunggu bukan lagi waktu yang terbuang, dan bergerak menjadi bagian dari pengalaman ruang yang ingin terus diingat.


 
 
 

© 2025 Alien Design Consultant, All Rights Reserved

bottom of page