Refacade sebagai Rebranding Arsitektural: Membaca Fasad Bank Syariah Nasional di Kawasan Urban Padat
- domeiru fahramshed
- 2 days ago
- 2 min read

Dalam konteks kota besar seperti Jakarta, fasad bangunan kantor bukan lagi sekadar elemen penutup atau ekspresi estetika semata. Ia berfungsi sebagai media komunikasi visual, pembentuk persepsi publik, sekaligus representasi nilai institusional. Proyek Re facade BTN Syariah Tanah Abang (Sekarang Bank Syariah Nasional di Tanah Abang) menjadi studi menarik untuk membaca bagaimana rebranding korporasi diterjemahkan melalui strategi arsitektural, khususnya pada kawasan urban yang padat, heterogen, dan penuh tekanan visual.
Re facade: Antara Keterbatasan dan Peluang
Berbeda dengan proyek ground-up, re facade selalu berangkat dari kondisi eksisting—baik secara struktural, fungsional, maupun citra. Pada kasus BSN Tanah Abang, bangunan eksisting berada di lingkungan dengan kepadatan tinggi, keterbatasan lahan, serta konteks visual yang kompetitif. Dalam kondisi seperti ini, pilihan re facade bukan keputusan minor, melainkan strategi intervensi yang paling rasional: memperbarui identitas tanpa membongkar sistem yang masih berfungsi.
Asumsi mendasarnya jelas: citra lama tidak lagi merepresentasikan arah institusi, namun bangunan tetap harus beroperasi secara efisien. Maka, fasad diposisikan sebagai “kulit baru” yang bekerja di dua level sekaligus visual dan performatif.
Verticality sebagai Bahasa Rebranding

Salah satu keputusan desain paling menonjol dalam proyek ini adalah penekanan pada komposisi vertikal. Strategi verticality bukan sekadar gaya kontemporer, melainkan respon terhadap beberapa variabel sekaligus: skala bangunan, proporsi kawasan, dan kebutuhan simbolik institusi perbankan.
Dalam kawasan urban padat, fasad horizontal cenderung “tenggelam” di antara bangunan sekitar. Pendekatan vertikal memberi efek sebaliknya: menegaskan kehadiran, meningkatkan persepsi ketinggian, dan menciptakan ritme visual yang lebih kuat dari jarak jauh. Secara simbolik, garis vertikal juga sering diasosiasikan dengan stabilitas, pertumbuhan, dan aspirasi nilai yang selaras dengan citra bank nasional.
Dengan kata lain, verticality di sini bukan dekorasi, melainkan alat komunikasi identitas.
Fasad, Pedestrian, dan Skala Manusia

Rebranding arsitektural yang matang tidak berhenti pada elevasi bangunan. Proyek ini menarik karena mengaitkan fasad dengan desain pedestrian, hardscape, dan area transisi publik. Pola lantai, jalur sirkulasi, serta plaza depan dirancang sebagai perpanjangan bahasa fasad menciptakan pengalaman ruang yang kohesif dari skala kota hingga skala manusia.
Pendekatan ini menegaskan bahwa identitas korporasi tidak hanya dibaca dari kejauhan, tetapi juga dirasakan saat pengguna dan publik berinteraksi langsung dengan bangunan. Dalam kawasan padat seperti Tanah Abang, kualitas ruang transisi ini menjadi krusial untuk membedakan bangunan institusi dari lingkungan komersial di sekitarnya.
Re facade sebagai Pernyataan Institusional

Yang patut digarisbawahi, re facade BSN bukan proyek “ikonik” dalam arti bentuk eksperimental atau ekspresi ekstrem. Justru kekuatannya terletak pada kontrol desain bagaimana setiap keputusan fasad mendukung narasi institusi: inklusif, modern, dan berkelanjutan.
Ini mengajukan pertanyaan reflektif bagi praktik arsitektur:Apakah rebranding harus selalu spektakuler, atau justru efektif ketika ia bekerja secara sistematis, konsisten, dan kontekstual?
Re facade BTN Tanah Abang menunjukkan bahwa fasad dapat menjadi alat rebranding yang strategis, terutama dalam konteks urban padat. Melalui pengolahan verticality, material yang terkontrol, serta integrasi dengan ruang publik, proyek ini membuktikan bahwa transformasi identitas tidak selalu menuntut pembangunan ulang, melainkan pembacaan ulang yang cermat terhadap bangunan yang sudah ada.
